Seakan Berada Di Negeri Donggeng Ketika Berada Di Puncak Gunung Singgalang

Gunung Singgalang berada di Nagari Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat merupakan gunung vilkanik yang tidak aktif dengan ketinggian 2877 mdpl.

Gunung ini dihiasi dengan pepohonan hutan hujan tropis yang masih sangat alami, juga dikenal kaya sumber air baik di musim penghujan maupun musim kemarau sumber air tetap melimpah.

Selain pemandangannya (lukisan alam) yang menawan para pendaki selama perjalanan, banyaknya sumber air yang ada tentu membuat para pendaki tidak kuatir akan kehabisan bekal air minum saat menuju puncak gunung.

"puncak-gunung-singgalang"
Gunung Merapi Bersebelahan Dengan Gunung Singgalang. Selasa, 18 Agustus 2020

Bila para saudara pengembara ingin mendaki Gunung Singgalang ini setidaknya ada 3 (tiga) pendakian yang bisa dijadikan sebagai pilihan.
    1. Melalui jalur pendakian Toboh
    2. Melalui jalur pendakian Balingka, dan
    3. Melalui jalur pendakian Koto Baru

Dari ketiga jalur pendakian di atas yang familier dan paling sering dilalui oleh para pendaki adalah jalur Koto Baru.

Meskipun familier jalur mendaki ke puncak Gunung Singgalang merupakan jalur tracking paling terjal di Provinsi Sumatra Barat.

Setelah Koto Baru maka saudara para pengembara harus menuju ke posko pendakian yang terletak di Desa Tanjuang, Kanagarian Pandai Sikek.

Di posko pendakian ini dilakukan pengecekkan barang bawaan dan diwajibkan membawa perlengkapan P3K, serta akan diberi kantong plastik, gunanya untuk membawa sampah-sampah sisa kemasan yang para saudara pengembara bawa.

Menurut d'mas pengembara pemberian kantong plastik adalah sesuatu yang baik, dikarenakan banyak yang mendaki dan merasa sebagai pecinta alam tetapi dengan sengaja mereka meninggalkan sampah di gunung yang mereka daki, bahkan membuangnya disembarang tempat (jalur yang di lalui).

"gunung-singgalang"
Jalur Pendakian Cadas Gunung Singgalang. Selasa, 18 Agustus 2020

Di beberapa gunung juga sering terdapat aksi vandalisme dari mereka yang berpura-pura menjadi pecinta alam, mendaki gunung tetapi meninggalkan jejak yang tidak mendidik para pendaki pemula dan tentu saja mereka bukanlah pendaki sejati.

Karena pendaki sejati hanya akan mengambil gambar, membunuh waktu, serta meninggalkan hanya jejak kaki ataupun cerita, mereka tidak ingin dikenal dengan sebuah aksi menuliskan namanya di batu dan sebagainya.

Untuk administrasi diposko pendakian cukuplah murah yaitu dengan membayar retribusi sebesar Rp : 15.000,- per orang dan Rp : 20.000,- untuk sepeda motor.

Setelah semua prosedur telah dilewati dan di ijinkan oleh penjaga posko pendakian untuk melanjutkan perjalanan, maka para saudara pengembara tinggal melanjutkan perjalanan mendaki menuju puncak Gunung Singgalang dengan perjalanan kurang lebih selama 6 jam.

Titik awal pendakian ditandai dengan tiang-tiang pemancar Televisi, baik tiang pemancar Televisi milik Swasta maupun tiang pemancar Televisi milik Negara.

"singgalang"
Mendirikan Tenda Di Tepi Telaga Dewi. Selasa, 18 Agustus 2020

Di tengah perjalanan jalur mendaki para saudara pengembara akan menjumpai sebuah tugu, yaitu Tugu Galapagos. Tugu yang sengaja di buat untuk menghormati sekaligus mengenang pendaki muda (masih SMA) yang meninggal saat pendakian pada tahun 1988.

Sedikit kisah tentang pendaki muda tersebut :

Pendaki muda tersebut bernama Iwan Siswandi dan Yahya Weri yang tergabung dalam kelompok pecinta alam yang bernama Galapagos di sekolahnya.

Setelah berpamitan ingin menuju Telaga Dewi kepada rombongannya yang berkemping di cadas tapi tak kunjung kembali setelah dinanti sekian lama.

Lalu dilakukan pencarian, dicari pun tak jua ditemukan, bahkan pencarian melibatkan banyak orang. Karena salah satu dari pendaki muda yang hilang tersebut adalah putra seorang Kapolda Sumatra Barat pada waktu itu.

Setelah melewati rute pendakian yang menanjak maka para saudara pengembara akan disambut oleh pepohonan yang dipenuhi lumut seperti kisah dalam donggeng serta kecantikan Telaga Dewi yang akan membuat semua lelah hilang seketika.

"puncak-gunung-singgalang"
Pepohonan Berlumut dan Telaga Dewi. Selasa, 18 Agustus 2020

Sebagian besar para pendaki lebih banyak menghabiskan waktu disekitar Telaga Dewi, tak sedikit pula yang mendirikan tenda dan puncak gunung singgalang menjadi tujuan no dua 😊. Puncak Gunung Singgalang dari Telaga Dewi ini hanya sekitar 30 menit lagi perjalanan. 

Oiya buat para saudara pengembara maupun para pendaki yang belum pernah mendaki Gunung Singgalang sampai ke puncak jangan berfikir akan melihat bentangan awan yang menawan kala pagi menyapa karena puncak Gunung Singgalang dipenuhi dengan tumbuhan yang berlumut.

Sehingga pandangan ke sekitar gunung terhalang pepohonan berlumut tersebut, tidak seperti kebanyakan pemandangan di atas gunung-gunung lainnya yang ada di Indonesia.

"gunung-sumatra-barat"
Pohon-Pohon Berlumut Di Puncak Gunung Singgalang. Rabu, 19 Agustus 2020

Lord Of The Ring, Negeri Donggeng, seperti mimpi, apa pun yang terucap dari para pendaki, itulah bukti Kuasa Illahi yang telah menciptakan puncak gunung jadi seindah ini.

Bagi para saudara pengembara dan para pendaki yang ingin menikmati ketenangan dan kedamaian di atas gunung, serta belum pernah menapakkan kaki di puncak Gunung Singgalang, mendakilah kemari dan tetap jaga agar gunung lestari, jangan meninggalkan sampah, jangan mencoret-coret, apalagi merusak.

Jadilah pecinta alam yang bener-bener mencintai alam dan bukan hanya slogan semata "pecinta alam".


Silahkan klik ikuti, jika saudara berkenan. Salam Paseduluran

0 Komentar

Profile, Nama, dan segala bentuk Link Aktif lainnya otomatis dimatikan jika berkomentar di sini. Maaf 🙏